Semasa

Juli 30, 2009

Masyhur diperkatakan bahwa yang paling jauh adalah dia: si masa lalu. Tapi mengapa gerah dan gigilnya, bentuk dan berantaknya, getir dan girangnya; sering begitu nyata dan terasa baru?

Apakah mungkin itu karena sebenarnya: masa lalu seperti bayang-bayang, diri ini adalah masa kini, dan masa depan itulah cahaya?

Jika semua terang berubah remang atau bahkan sengaja dipadamkan, siapakah gerangan yang dapat melihat jelas kesempatan baiknya di masa sekarang? Bahkan masa lalu pun akan ikut terkenang sebagai kegelapan.

Jika masa depan dipunggungi, dibelakangi dan dijauhi, maka bayang-bayang itu terus-menerus gampang terlihat di hadapan segala diam ataupun ketika diri kalap berlari kesana kemari.

Tapi lebih dari itu, terkadang memang lumayan sukar untuk membedakan mana safari dan mana melarikan diri. Yang dapat ditanya apakah benar sebuah pergi sedang melaju menuju cahaya, mungkinlah akal dan sanubari.

Tinggalkan Balasan