Peringatan “Di belakangmu ada ular!”, katanya, lebih ber-efek dibanding menunjukkan ular kepada seseorang. Kaget sudah pasti. Takut, apalagi.
Tapi dalam banyak hal, manusia lebih ngeri, justru kalau berhadapan dengan sesuatu. Pelajar menghadapi ujian. Mahasiswa menghadapi kelulusan. Lajang menghadapi dunia pasangan. Pasutri menghadapi masalah ke-rumah-tangga-an. Dan lain sebagainya.
Sayang sekali, itu semua mesti dihadapi. Itulah mungkin karena manusia, seberadab apapun, memang sedang berjalan ke depan. Kadang, saat-saat sesuram apapun bisa dilalui, cukup ditemani keyakinan bahwa semua itu akan lewat dan tersisa sebagai masa silam. Tapi memroduksi kenangan, ternyata bukan peristiwa segampang membalik telapak tangan.
Saat-saat menghadapi sesuatu, malah kerapkali membuat takut mata, sampai-sampai enggan melihat bermacam pertanda. Bunyi asing memancing tangan hingga rapat-rapat menutup telinga. Bahkan tak jarang, hidung dan mulut berhenti nafas secara berpura-pura. Mungkin itu semua karena seseorang tak berani disangka hidup. Ia membiarkan panca inderanya terbengkalai penuh katup.
Padahal bumi menghadapi matahari dengan putaran riang gembira. Berjarak panas, berjarak dingin, semuanya pentas bagi para musim. Banyak pula konsekuensi yang harus ditanggung atau ditadah. Ada badai, ada cerah. Ada kering, ada basah. Ada lenyap, ada waktunya.
Hanya barangkali, manusia tak setegar bumi, padahal seringkali, impiannya segarang matahari.