Tersenyum, bukan tertawa, bukan pula gara-gara limbahan canda. Tapi ya tersenyum saja, karena agaknya, semesta bebas memang tulus merindukan senyum manusia. Berjuang, mungkin dengan duka lara begitu rupa (atau bersama ulangan kegalauan yang sederhana).
Tapi bagaimana, jika ternyata, bumi diciptakan untuk bersahabat dengan air mata. Bayangkan saja lautan tua yang berkumpul mesra di pelupuk-pelupuk benua. Jumlahnya pun terbilang jauh lebih limpah daripada keras-padatnya litosfera. Dialah penyusun planet biru, planet yang sejak lama menjauhi masa muda.
Sehingga saat kita sedih sendiri, (mungkinkah bisa disadari, bahwa) sudah ada bumi yang menemani?
Saat-saat menangis atau tersenyum di hadapan orang-orang tercinta, mungkinlah saat-saat paling puitis sedunia. Saat gundah, saat haru atas berkah, atau saat nyaris menyerah terhadap berbagai masalah.
Hanya itu sajakah, ataukah ada saat-saat jenis lain yang bagaimana? Agaknya, jemari tangan dan kaki takkan bisa menghitung dengan segera. Syukurlah Tuhan menitipkan hati dan perasaan kepada kita. Ada sempit jadi lapang. Ada kering jadi genang. Ada jerit berubah tenang. Ada pusing berbuah menang. Ada banyak detik-detik momen asing yang ternyata turut menata puzzle kebahagiaan.
Mungkin, senyuman tangis adalah salah satu tamu tak diundang yang banyak dinantikan.