Paradoks

Juni 25, 2009

Apakah benar, ada “kebahagiaan tersendiri” ketika mendapati, secuil emas lain, rupanya, diketahui tak punya derajat karat yang cukup tinggi? Atau saat menyaksikan adegan tupai itu, jatuh dari pohon tinggi, setelah berkali-kali melompat kesana-kemari? Atau tatkala melihat gelora apinya jadi padam tanpa basa-basi?

Kebijaksanaan, rajin turun sebagai kata-kata, setidaknya sebasah kerontang di kota hujan. Keelokan hidup, gemar bersuara dalam alinea-alinea, bisa-bisa segelegar petir di kedekatan. Tapi, awan yang sebenarnya, mungkin saja masih getir dan kurang yakin untuk mencuacai hari-hari. Barangkali arak-arakannya masih mengenali diri, meski terus-terusan berantakan lagi, akibat angin gersang yang lalu-lalang sedari silam tanpa permisi.

Tidak ada yang pernah menjanjikan hadiah kepada paradoks jenis apapun. Namun ia kerap senang sumringah datang selaku tamu sinis berwajah santun. Begitu seorang tuan rumah buru-buru menutup pintu, ternyata sang tamu sudah lebih dulu duduk manis dan menunggu.

Tapi tanpa berlama-lama, wajahnya segera berubah bengis dan benci. Sambil menghardik dengan segala macam intonasi, malah si tuan rumah lah yang diusirnya keluar pergi. “Ini bukan rumahmu lagi!” katanya.

Si tuan rumah baru saja hendak mengalah dan menyerah, ketika dari luar terdengar ketukan kencang dan teriakan: “Engkau sedang bermimpi panjang, bangunlah sekarang!”

Tinggalkan Balasan