Horison

Mei 20, 2009

Apa jadinya kalau mata manusia sejalur vertikal? Mata atas dan mata bawah. Pasti susah. Tubuh saja simetris kanan-kiri. Dan manusia hidup di “dunia datar”. Bukan dunia dinding atau tebing. Manusia tidak merayap atau memanjat. Walau berjalan ke berbagai penjuru, tetap saja wawasan horizontal yang dominan akan dijumpa.

Tapi dunia batin, agaknya tidak begitu sama. Selalu saja ada ambisi untuk merebut puncak. Seolah-olah, jika tidak di atas, pastilah kebagian di bawah. Seakan-akan, kalau tidak merendahkan, tentulah giliran dilecehkan. Dunia seperti hanya boleh sesak oleh sanjungan, lain tidak.

Sukar untuk menyebutnya sangat keliru. Sebab manusia, konon secara muasalnya, butuh meletakkan sesuatu (itulah harusnya Tuhan) pada tempat yang lebih atas. Maka, kalau memang benar manusia meng-atas-kan Tuhan, akan sedikit saja yang akut dalam cemas. Hanya jangan-jangan, bagaimana kalau bukan Tuhan. Bisa saja itu bendawi belaka, yang sebetulnya mudah teramati dalam dunia kanan-kiri, dunia horizontal. Sehingga tak cukup layak untuk divertikalkan.

Ibrahim as pernah menyapa bintang, bulan, dan matahari. Tapi ia masih melihatnya dengan mata kanan-kiri. Kata kitab suci, manusia berizin-Nya bisa melihat-Nya, nanti. Entah dengan mata seperti apa. Musa as saja pingsan saat menatap cahaya-Nya. Dunia horison, memang bukan akhirat surga.

Tapi di sinilah manusia jatuh bangun, tak jarang, bersama perasaan terpaksa. Malah mungkin, tersiksa. Syukurlah mata bisa numpang tunduk-tengadah kepala. Buat apalagi kalau bukan untuk… berdoa.

Tinggalkan Balasan