Kebaikan sering terhalang karena banyak hal. Salah-satunya mungkin akibat keragu-raguan. Medio 45, Bung Karno menjawab bisikan gamang tentang belum waktunya Indonesia merdeka. Maka terlontarlah istilah “jembatan emas”. Dalam jargon tadi, anggapan bahwa Indonesia belum siap itu-ini; tidak cukup jadi alasan untuk menunda proklamasi.
Tapi itu masa silam. Barangkali jargonnya pun bukan hal dominan dalam kekinian. Hanya saja, kondisi yang tak kurang pentingnya, mungkin rajin mewarnai kanvas kecil manusia. Bahwa suka ada semacam keraguan melakukan sesuatu, hanya karena belum memiliki banyak hal.
Padahal, kenyataannya bisa lebih mudah daripada keraguan yang dikhawatirkan. Untuk bangun, hanya perlu membelalakkan mata. Untuk berjalan, hanya perlu melangkahkan kaki. Untuk tersenyum, hanya perlu menata ujung bibir di kedua pipi. Untuk berbuat baik, cukup dengan cara berbuat baik saja.
Kadang memang situasi kesadaran seakan rumit. Serta-merta, ada saja was-was yang mengganggu. Tapi lebih sering lagi, prasyarat itu muncul dibuat-buat. Tentu bukan keliru, jika meletakkan ilmu sebagai prasyarat utama, untuk terus diperkaya dari waktu ke waktu. Tapi kalau “prasyarat-prasyarat palsu”, salah-salah malah bisa membelenggu. Sampai lama sekali, barulah seseorang tersadar dan mulai melakukan sesuatu.
Cita-cita atau impian-biasa yang suka malu bertanya, barangkali bisa mengingatkan, betapapun prasyaratnya, seseorang tetaplah manusia merdeka di kedekatan Tuhan.