Sujud

November 10, 2008

Sujud itulah saat terdekat dengan Allah. Ini bukan hal yang mengejutkan. Sebab dalam naskah suci, memang jelas disebutkan. Tapi sejenak memikirkannya, agaknya cukup menakjubkan. Bahwa ternyata, saat-saat paling melangit itu, diklaim dapat (atau ‘dapat diklaim’?) hadir pada saat-saat paling membumi (bahkan secara literal).

Ini bukan agresi terhadap bandangnya banjir jargon “membumi/kan”. Bukan juga eksklusi dari arogansi legit seputar lapis-lapis kue ceramah yang “melangit”. Ini sekadar bisik pelan tentang, mmm, tak perlunya bumi dan langit itu dipertentangkan.

Sujudlah yang mewadahi pesta tersunyi anggota tubuh di atas bumi: kening, hidung, telapak tangan, lutut dan jemari kaki. Bibir, bisa saja iri, tapi ia ternyata punya tugas yang tak kalah suci: melafalkan nama dan pujian kepada-Nya.

Bumi tak bertelinga. Tapi bisikan pelan berulang dari manusia tentang-Nya mungkin selalu mengingatkannya. Langit tak merendah turun. Tapi, do’a-do’alah yang rela menaik menembus ruang dan kurun.

Acapkali di sebuah luang, kita mudah terpancing benci kepada anjuran melangit. Tapi di saat yang berbarengan, justru dengan mudahnya melontar koral-koral tajam ihwal segala hal yang “membumi”. Seolah hal kedua menindas keras kepada yang pertama. Seolah hal kedua sama—atau malah jauh lebih—enteng dibanding hal pertama. Padahal kan kita masih dapat leluasa menikmati keduanya dengan lapang dada, biasa saja.

Tulisan-tulisan bercetak miring atau berhuruf “lain” dan petuah-petuah lawas, tetaplah koridor-koridor terang untuk selalu mudah merasa mawas. Hal-hal terpandang-mata dari panen cerita semasa, sama juga ialah arena hikmah yang sangat berguna untuk dibaca: sekalipun ia tak pernah meminta.

Nilai-nilai pemandu yang lalu-lalang di kepala, kan tidak untuk dirutuki, sekalipun kenyataan jauh panggang dari api. Upaya-upaya keras untuk melakukan sesuatu yang luarbiasa bermanfaat nyata, kan tak lantas dilakukan seraya memunggungi nilai-nilai tadi.

Bagaimana bisa orang menginjak-injak apa yang dianggapnya terlalu melangit? Dan, bagaimana mungkin orang berpijak(?) jalan di atas langit?

Tags: , , , ,

Tinggalkan Balasan