Obsesi terhadap kesenyapan itu, sangat menggoda. Peribahasa terlanjur menggurui kita. “Air tenang menghanyutkan,” katanya. “Padi tumbuh tak berisik,” tulis Tan Malaka yang agaknya kutipan pepatah juga.
Tapi acapkali, kita merasa kekurangan cerita. Berapa banyak sih, orang yang mencicip sukses, lega, dan bahagia secara diam-diam. Jangan-jangan, hanya segelintir saja. Jangan-jangan, hanya mereka yang tak punya siapa-siapa.
Jadinya tak jarang, malah terseret ke dalam sikap meledak-ledak. Koar-koar sesumbar, kendali separuh liar. Anjlok lonjak gonta-ganti suasana hati. Sampai banyak hal menjadi terlalu ekstrim dalam fluktuasi.
Bisa juga di lain waktu, frasa “diam-diam” ini menjelma kepongahan sunyi. Seakan kita bisa menumbuhkan mawar tanpa duri; seolah kita serta-merta dapat membuahkan bunga melati. Padahal kan sama sekali tidak, tidak demikian.
Jadi, godaan bersikap “diam-diam” ini agaknya, selalu saja dua sisi. Entah apa yang menjadi keping penyatu dan simpul penali. Tapi mungkin, kekerapan berlatih, ikut andil dalam hal ini; selain menyangkut pendulum hati dan kepasrahan diri.
Asyik sekali, kalau dapat tergoda oleh si “diam-diam”, dalam alur yang selalu membahagiakan. Meskipun sederhana. Sekalipun berujung hal-hal bersahaja saja. Sungguh, tak apa kan ya.