Maaf, bisakah kita menjadi akrab tanpa harus saling tergagap?
Pertanyaan itu mengejutkan saya. Bukan karena datang dari pojok entah dalam dada. Bukan pula karena tak punya jawabannya. Tapi, semata gara-gara ada dua kata kunci genting dalam serentet klausa: akrab dan gagap. Agak menegangkan melihat keduanya berdampingan.
Iya, jelaslah itu hasil rekayasa. Keakraban macam apa. Kegagapan seperti apa. Lebih dari itu, “menjadi” dan “saling” yang bagaimana?
Beruntunglah, pertanyaan itu dimulai dengan “maaf” di depannya. Saya berprasangka, itu artinya, cukup terkejut saja. Tanpa harus menerbitkan jawaban. Lain kata, cukup tersenyum, lalu diam.
Kecuali kalau pertanyaan itu menclok lagi. Mungkin bakal saya usir ke taman hati. Membiarkannya terbang kesana kemari. Sampai menemukan jawabannya sendiri.