Di jalanan, muka kusut orang dewasa lalu-lalang. Tak semuanya kusut memang. Tapi jelaslah seperti mewadah banyak masalah. Bertumpuk yang sedang dipikirkan. Itu kelihatan.
Ada yang senyum sekadar tuntutan kesopanan. Ada yang terbahak tapi hatinya remuk redam. Ada yang berang mengingat kejengkelan. Ada yang datar saja, padahal kecamuk menggerus jiwa. Tentu tak hanya itu, banyak juga ragam wajah lainnya. Kebanyakan mencerminkan isi dada.
Mumet. Ruwet. Kusut. Cemberut. Tegang. Meradang. Jengkel. Bertumpuk, berganti, paralel.
Tapi coba lihat wajah anak-anak. Wajah mereka yang tadi pagi atau kemarin sore kita lewat. Iya, pandangan yang mungkin biasa mendongak, layak dicoba untuk menunduk sejenak, sekadar buat menyimak. Biasanya, mereka, anak-anak itu, tampak melepas senyum, gembira, tertawa, berteriak, sampai bersorak.
Ada yang bermain, berlari dari kejaran temannya, lalu sembunyi di balik roda gerobak. Padahal kita tahu, itu tempat yang mudah dilihat. Ada yang loncat-loncat tanggung, sebab merasa agung berhasil menendang bola sedikit melambung. Lalu yang perempuannya melingkar, berjongkok riang, bermain rumah-rumahan, warung-warungan, atau boneka-bonekaan.
Ada pula mereka yang jalan beriringan, menapaki telusur jalan ke sekolahan. Tenang dalam ritme kesunyian. Jemari tangan memegang tali tas punggung atau yang diselempang. Sebagian lagi ada yang melepas ayunan lengan, mengipas jalanan. Langkah-langkah tergerak tanpa kebingungan. Malah ada terlihat ingin cepat-cepat tiba di tujuan.
Terkadang, kita sampai tak sanggup menerka, keceriaan macam apa yang membuat mereka begitu gembira, mewajahkan rona bahagia. Beruntunglah, kita pernah menjadi anak-anak. Sehingga mestinya, tak perlu sukar menebak.
Selalu ada sesuatu di wajah anak-anak. Sekalipun saat mereka menangis. Racikan jujur batinnya, tetap terasa manis. Toh selepas itu, tanpa berbilang lama, cerianya kembali menyapa, biasanya.