Rintik

Nopember 4, 2008

Hujan kecil rintik itu kadang membuat panik. Para penjemur mungkin sampai menjerit. Takut pakaiannya basah lagi, sehabis dihajar terik.

Tapi sebagian anak malah berlarian, senang. Biasanya, karena itu dianggap suasana baru, untuk sebuah permainan. Apalagi kalau hujan tambah deras. Anak-anak semakin penasaran, bagaimana suasana itu akan tuntas.

Tanah yang kering, lain lagi. Ia segera saja meruapkan aroma khas ke atas bumi. Itu, aroma debu dihempas air. Wangi tanah, mengawali basah, seperti kemarau yang melepas akhir.

Bagaimana dengan awan? Apakah ia sedih ditinggalkan sebagian demi sebagian? Ataukah gembira, karena ia dapat berbagi hitam?

Kita dapat menitip pesan kepada angin. Sekadar untuk disampaikan kepada awan. Tapi biasanya, angin menolak, untuk bertanya kepada ia yang dekat.

Kalau sudah begini, rintik hujan itu, mungkin lebih baik dipanjati saja. Kalaupun sungkan, cukup dinikmati dari balik jendela kaca; atau sekadar diintip dari lubang kecil di bilik bambu yang mendindingi rumah sejak lama.

Bisa juga, dengan cara lainnya, terserah langit di jiwa kita.

Tags: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan