Setidaknya 36

November 2, 2008

Setidaknya ada 10 angka dan 26 aksara. Dengan ke-36 “hal” itu, orang-orang berlomba atau bekerjasama. Mulai urusan mendulang uang, hingga yang transenden tak-butuh termaterikan. Mulai dari aksesori pertemanan, hingga sulut awal permusuhan.

Mereka yang gagal dengan angka, masih bisa mengolah aksara. Mereka yang belum sukses mengutak-atik aksara, dapat bahagia dengan angka. Toh, pada sisi-sisi yang saling berkelindan, olahan kreatif pada keduanya sama-sama berperan, bagi setiap orang.

Penuang aksara bisa mendapati angka sangat besar di dompetnya. Pengelola angka pun begitu juga. Bersyukurlah bagi mereka yang berkuasa atas keduanya. Bukan sebuntu menyangkut dompet, nama, atau strata. Tapi enaknya, juga tentang lapar-kenyang jiwa.

Kalau memang begitu, lamunan kemandirian jangan dihentikan. Bahkan tanpa perlu tulisan inipun, kreativitas itu selalu membukakan jalan, bagi semua orang.

Mungkin saja, tinggal menggumam sepatah ungkapan: selamat datang!

Tapi kadang, ragu dan bimbang suka usil menghadang. Sampai-sampai, men-tsunami-kan ketakyakinan: apakah dalam kesetaraan sebagai manusia, gerbang pembelajar itu benar-benar tak ada buat kita?

Padahal kan, kuncinya sudah dipegang sejak lama. Kalau tak ada, bisa saja tempo hari, kita sengaja menaruhnya di sana, di saku jiwa. Meskipun sudah sesak dengan beragam pernak, kunci itu tentunya dengan mudah dapat dirogoh dan diraba. Toh, tangan kita sendiri kan, yang mencemplungkannya ke dalam sana.

Tags: , , , ,

Tinggalkan Balasan