Otak mengoleksi ingatan. Bukan hanya aksara dan angka. Tapi juga, kenangan. Ruang, suara, kejadian, durasi waktu, tersusun jadi satu.
Mungkin serupa koleksi multimedia. Tersimpan nyaman dalam diska. Ratusan, ribuan, atau bahkan mencacah juta. Ada yang selalu terdisplay di bagian muka. Sebagian lagi, barangkali meringkuk di folder lupa. Mungkin kesepian, atau juga memang seharusnya demikian.
Kadang butuh momen tertentu, untuk memutar ulang. Kalaupun bukan momen, mungkin cukup semacam rangsangan kecil. Melihat bocah sekolah mengisi buku Ramadhan, multimedia masa kecil pun tertayang. Melihat perempuan paruh baya membawa belanjaan, multimedia Ibu pun terputar ulang. Melihat pria paruh baya berjalan di subuh buta, multimedia Bapak yang kebagian giliran.
Alangkah enaknya, jika multimedia kategori bahagia, selalu mendapat rating tertinggi di otak kita. Lebih enak lagi, kalau misalpun sedang bersedih, otak secara spontan memutarkan multimedia paling cocok, untuk memulihkan keadaan. Dan jangan heran, kalau sebetulnya, koleksi (pemulih) semacam ini, ternyata melimpah di otak kita.
Karena bisa jadi, dalam dunia riil, sebenarnya tidak sedang terjadi apa-apa. Hanya pikiran saja yang dibombardir oleh kenangan-kenangan buruk. Sehingga menjamurkan kecemasan yang keterlaluan. Dan bisa jadi, kecemasan ini yang justru terkonversi, menjadi file multimedia berikutnya. Padahal, tidak sedang terjadi apa-apa!
Mungkin masih terlalu banyak koleksi yang menyedihkan. Jika demikian, agaknya dapat dicoba untuk ditafsir ulang. Atau juga seperti diresensi. Sehingga, ketika kelak multimedia itu tiba-tiba tayang, ada subtitle yang baru, atau mungkin, ada narasi tambahan yang ikut bersuara. Kalaupun memaksa tayang (dalam format aslinya), toh otak juga punya kekuatan, untuk melakukan penolakan, mestinya.