Pada sungai dangkal, rasanya nyaman mencelup tangan; tenang untuk membasahkan kaki. Tak ada rasa takut bakal tenggelam. Tapi, apakah ada kesenangan, pada pikiran yang dangkal?
Sepertinya, justru mengerikan. Seperti dasar sungai dangkal, pikiran dangkal mudah diterka. Seperti sungai dangkal yang rentan diseberangi, pikiran dangkal mudah untuk keruh seketika.
Tapi bolehlah, menikmati kedangkalan apa adanya. Maksudnya, setiap pikiran dangkal, dinikmati saja bagian jernihnya. Tak ada ikan warna-warni pun (mestinya) tak apa-apa.
Tak perlulah dinjak-injak dengan alasan untuk menyeberang, apalagi sekadar bermain-main. Lebih baik, menyeberanglah di jembatan.
Karena kemungkinan besar, jembatan itu dibangun benar-benar untuk menyelesaikan kesulitan. Kecuali pada kemarau gersang, biasanya, seret arus di bawah jembatan itu lumayan ganas. Kalaupun tidak, ya mungkin karena kedalamannya, sanggup melahap siapapun yang menyeberang.
Bukan mustahil, sepercik di dalam deras sana, sebelum atau setelahnya, melewati aliran dangkal juga.
Tags: dangkal, deras, injak, jembatan, keruh, nyaman, pikiran, umpama, warna