Daftar alasan untuk merasa gagal, semakin gila-gilaan. Berderet ke samping. Ke bawah, memanjang. Apa yang bisa dilakukan? Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk Oktober, 2008
Bobot
Oktober 31, 2008Rengek
Oktober 30, 2008Agaknya sedikit sekali, kesempatan untuk berhenti, sekadar merenungi diri. Karenanya tak heran, sering disanding dengan kata “sejenak”. Tapi mengapa, begitu luasnya, arena untuk mengeluh dan melara. Sehingga nyaris berdamping, dengan kata “setiap saat”. Baca entri selengkapnya »
Perlu
Oktober 29, 2008Sering jadi heran. Apakah harus nonton film, dengar musik, baca novel, buka majalah, atau ikut seminar dulu; untuk (terkejut dan) tercerahkan belakangan? Baca entri selengkapnya »
Kritis dan Sinis
Oktober 28, 2008Kritis itu bagus.
Sinis, kurang dari itu. Kalau sama-sama bagus, mungkin panduan berpikir sinis sudah dianjur di mana-mana. Sinis itu (dapat) menandai kemelaratan (pengolahan) informasi (yang akut). Hal-hal serius diledek sebagai kelucuan belaka. Hal-hal nihil dibesar-besarkan tiada tara.
Tertinggal
Oktober 27, 2008Ketinggalan bus, mendorong orang harus menunggu. Kalaupun tidak, mungkin ada alternatif bus lainnya. Tapi, kemungkinan besar, harus melewati rute berbeda.
Tak banyak yang dapat diperbuat sewaktu menunggu. Baca entri selengkapnya »
Ruang Bebas
Oktober 25, 2008Kejadian dalam hidup, saling mempengaruhi.
Mungkin banyak yang dapat membuatnya saling bebas. Tak berkaitan satu sama lain. Lima menit lalu, tertawa; beberapa detik kemudian, tersedu, di tempat yang sama. Bisa juga berbelit variasi lainnya. Baca entri selengkapnya »
Semangat
Oktober 24, 2008Semangat dapat muncul dengan mengintip keberhasilan orang lain. Perasaan lebih baik, dapat timbul dengan mencuplik kegagalan orang lain. Bagi orang lain, siapapun kecuali dirinya, dapat seketika menjadi orang lain. Baca entri selengkapnya »
Terpisah
Oktober 23, 2008Berkali waktu, pernah bercermin. Bukan untuk mematut-matut diri. Hanya mau bercermin saja. Lalu bertanya, “Eh, itu ada manusia! Iya, manusia!Seperti itu, wajahnya! Eh, apa itu? Itu hidungnya! Itu? Itu matanya! Yang itu? Itu mulutnya!” Sambil terus heran, saya sebut nama berulang-ulang. Nama saya sendiri. Aneh juga. Baca entri selengkapnya »