Juni 29, 2009
Peringatan “Di belakangmu ada ular!”, katanya, lebih ber-efek dibanding menunjukkan ular kepada seseorang. Kaget sudah pasti. Takut, apalagi.
Tapi dalam banyak hal, manusia lebih ngeri, justru kalau berhadapan dengan sesuatu. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tetulisan | Leave a Comment »
Juni 27, 2009
Tersenyum, bukan tertawa, bukan pula gara-gara limbahan canda. Tapi ya tersenyum saja, karena agaknya, semesta bebas memang tulus merindukan senyum manusia. Berjuang, mungkin dengan duka lara begitu rupa (atau bersama ulangan kegalauan yang sederhana).
Tapi bagaimana, jika ternyata, bumi diciptakan untuk bersahabat dengan air mata. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tetulisan | Leave a Comment »
Juni 25, 2009
Apakah benar, ada “kebahagiaan tersendiri” ketika mendapati, secuil emas lain, rupanya, diketahui tak punya derajat karat yang cukup tinggi? Atau saat menyaksikan adegan tupai itu, jatuh dari pohon tinggi, setelah berkali-kali melompat kesana-kemari? Atau tatkala melihat gelora apinya jadi padam tanpa basa-basi?
Kebijaksanaan, rajin turun sebagai kata-kata, Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tetulisan | Leave a Comment »
Mei 20, 2009
Apa jadinya kalau mata manusia sejalur vertikal? Mata atas dan mata bawah. Pasti susah. Tubuh saja simetris kanan-kiri. Dan manusia hidup di “dunia datar”. Bukan dunia dinding atau tebing. Manusia tidak merayap atau memanjat. Walau berjalan ke berbagai penjuru, tetap saja wawasan horizontal yang dominan akan dijumpa. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tetulisan | Leave a Comment »
Mei 17, 2009
Kebaikan sering terhalang karena banyak hal. Salah-satunya mungkin akibat keragu-raguan. Medio 45, Bung Karno menjawab bisikan gamang tentang belum waktunya Indonesia merdeka. Maka terlontarlah istilah “jembatan emas”. Dalam jargon tadi, anggapan bahwa Indonesia belum siap itu-ini; tidak cukup jadi alasan untuk menunda proklamasi. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tetulisan | Leave a Comment »
Desember 13, 2008
Ditulis dalam Tetulisan | 3 Komentar »
Nopember 10, 2008
Sujud itulah saat terdekat dengan Allah. Ini bukan hal yang mengejutkan. Sebab dalam naskah suci, memang jelas disebutkan. Tapi sejenak memikirkannya, agaknya cukup menakjubkan. Bahwa ternyata, saat-saat paling melangit itu, diklaim dapat (atau ‘dapat diklaim’?) hadir pada saat-saat paling membumi (bahkan secara literal). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tetulisan | Leave a Comment »
Tags: bumi, doa, langit, sujud, tubuh
Nopember 7, 2008
Obsesi terhadap kesenyapan itu, sangat menggoda. Peribahasa terlanjur menggurui kita. “Air tenang menghanyutkan,” katanya. “Padi tumbuh tak berisik,” tulis Tan Malaka yang agaknya kutipan pepatah juga. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tetulisan | Leave a Comment »
Tags: alur, bahagia, diam, peribahasa, sahaja, senyap