Semasa

Juli 30, 2009

Masyhur diperkatakan bahwa yang paling jauh adalah dia: si masa lalu. Tapi mengapa gerah dan gigilnya, bentuk dan berantaknya, getir dan girangnya; sering begitu nyata dan terasa baru?

Apakah mungkin itu karena sebenarnya: masa lalu seperti bayang-bayang, diri ini adalah masa kini, dan masa depan itulah cahaya? Baca entri selengkapnya »


Kejora

Juli 29, 2009

Pada banyak pagi sejak dahulu, kadang-kadang saja aku menatap kejora di sekitar langit timur. Tapi baru belakangan ini aku terpikir untuk berkenalan dan mengajaknya berteman. Tentu sapaan jauhku terlalu senyap untuk ia dengar. Baca entri selengkapnya »


Tidak Aneh

Juli 19, 2009

Terkadang banyak hal urung dilakukan, hanya gara-gara memandangnya sebagai sebuah keanehan. Padahal banyak orang sudah menjalanianya. Malah dengan rasa senang. Baca entri selengkapnya »


Pamer

Juli 17, 2009

Apa arti penting pamer? Mungkin banyak. Baca entri selengkapnya »


Menghadapi

Juni 29, 2009

Peringatan “Di belakangmu ada ular!”, katanya, lebih ber-efek dibanding menunjukkan ular kepada seseorang. Kaget sudah pasti. Takut, apalagi.

Tapi dalam banyak hal, manusia lebih ngeri, justru kalau berhadapan dengan sesuatu. Baca entri selengkapnya »


Senyuman Tangis

Juni 27, 2009

Tersenyum, bukan tertawa, bukan pula gara-gara limbahan canda. Tapi ya tersenyum saja, karena agaknya, semesta bebas memang tulus merindukan senyum manusia. Berjuang, mungkin dengan duka lara begitu rupa (atau bersama ulangan kegalauan yang sederhana).

Tapi bagaimana, jika ternyata, bumi diciptakan untuk bersahabat dengan air mata. Baca entri selengkapnya »


Paradoks

Juni 25, 2009

Apakah benar, ada “kebahagiaan tersendiri” ketika mendapati, secuil emas lain, rupanya, diketahui tak punya derajat karat yang cukup tinggi? Atau saat menyaksikan adegan tupai itu, jatuh dari pohon tinggi, setelah berkali-kali melompat kesana-kemari? Atau tatkala melihat gelora apinya jadi padam tanpa basa-basi?

Kebijaksanaan, rajin turun sebagai kata-kata, Baca entri selengkapnya »


Horison

Mei 20, 2009

Apa jadinya kalau mata manusia sejalur vertikal? Mata atas dan mata bawah. Pasti susah. Tubuh saja simetris kanan-kiri. Dan manusia hidup di “dunia datar”. Bukan dunia dinding atau tebing. Manusia tidak merayap atau memanjat. Walau berjalan ke berbagai penjuru, tetap saja wawasan horizontal yang dominan akan dijumpa. Baca entri selengkapnya »